Terinspirasi dari sebuah lagu berjudul "HAPPY" yang dinyanyikan seorang biduanita cantik asal Inggris.
Suaranya yang khas plus alunan nadanya yang nyaman didengar kuping menjadikan lagu ini "one of my Lullaby's". Most of all, lirik lagunya juga sangat bagus, ditambah dengan jalan cerita jika kita menonton
video klip lagu ini. Cinta tak harus memiliki, dan mungkin dengan membiarkan seseorang yang kita cintai pergi mencari jati dirinya juga memberikan kebahagiaan tersendiri bagi kita ^_^ (bahkan mungkin orang itu menikahi wanita/ pria lain dan kita hadir dipernikahannya #versi cerita di video klipnya hehehe...)
Kebahagiaan itu hadir dalam banyak versi, banyak cerita, banyak ragam dan bentuk.Kita (sudah seharusnya) berusaha mendapatkan kebahagiaan kita sendiri ^_^
Orang yang sedang jatuh cinta mempunyai kebahagiaan versinya sendiri. Pasangan yang baru menikah memiliki kebahagiaannya sendiri dan tak jarang mereka pamer kebagahiaan di depan umum (bikin yang lajang jadi ngiri aja,, hihihihih), dan seorang Mahasiswa/i yang baru tamat (fresh graduate) pun mempunyai kebahagiaan sendiri meskipun mereka belum sepenuhnya menyadari bahwa mereka baru saja menambah jumlah angka pengangguran di muka bumi ini, hahahaha....
Lalu bagaimana dengan seseorang yang rela melepas kebahagiaannya hanya untuk membahagiakan orang yang dikasihinya ? Sepertinya ini adalah hal yang lumrah terjadi saat ini.
Bagi segelintir orang, bahagia itu sangat mahal harganya. Bahkan ada yang rela bertumpah darah untuk memperebutkan kebahagiaan. Carilah arti kebahagiaanmu sendiri, seperti bait dari lirik lagu ini "u can't have everything", so (in my opinion) we have to make choises to find our happiness.
*HAPPY*
By Leona Lewis
Someone once told me that you have to choose
What you win or lose, you can't have everything
Don't you take chances, you might feel the pain
Don't you love in vain 'cause love won't set you free
I could stand by the side and watch this life pass me by
So unhappy, but safe as could be
So what if it hurts me?
So what if I break down?
So what if this world just throws me off the edge
My feet run out of ground?
I gotta find my place, I wanna hear my sound
Don't care about all the pain in front of me
'Cause I'm just trying to be happy, ya
Just wanna be happy, ya
Holding on tightly, just can't let it go
Just trying to play my role, slowly disappear, oh
But all these days, they feel like they're the same
Just different faces, different names, get me out of here
But I can't stand by your side, oh no
And watch this life pass me by, pass me by
So any turns that I can't see
Like I'm a stranger on this road
But don't say victim, don't say anything
Showing posts with label Tukar pikiran. Show all posts
Showing posts with label Tukar pikiran. Show all posts
Friday, September 17
Thursday, March 4
Ready or Not....
Berbicara mengenai siap atau tidak siap, I think it's depend on situation and condition. Jadi ingat quotes dari buku yang pernah aku baca: "Nekad hanya untuk mereka yang tidak tahu. Takut hanya untuk mereka yang tidak siap. Dan Optimis untuk mereka yang tahu dan siap".
Well, jika kita tahu resiko yang bakal muncul dan kita tetap menjalani suatu kondisi/situasi, kita tidak akan dibilang nekad. Jika kita siap menghadapi semua resiko yang (akan) timbul, kita juga gak bakal disebut pengecut. Nah, itu salah satu bentuk kesiapan mental juga kan? Dengan begitu kita akan membuang jauh-jauh yang namanya "Penyesalan" secara kita udah memperhitungkan jauh-jauh hari resiko yang bakal muncul dan kesiapan kita menghadapinya.
Resiko itu gak bisa dicegah. Bagaimanapun usaha dan cara kita, pasti resiko akan muncul. Resiko hanya bisa diminimalisir, agar tidak terjadi resiko yang besar dan merugikan kita. ^_^
So, back to the main topic, we talk about ready or not ready. Aku sendiri berpikiran kalau kita udah tau segala macam resiko dan bagaimana mengelola resiko itu seminim mungkin, bearti kita siap. Kalo masi banyak bingungnya, itu karena kita belum melihat sejauh mana resiko yang bakal muncul.
Menurutku lagi, kalo kita dihadapkan pada dilema, kebingungan dan kebimbangan, paling enggak cari orang yang tepat untuk sharing. Seperti yang selalu orang bilang "dua kepala lebih baik dari satu kepala".
Masalahnya, jika kita termasuk orang yang introvert, atau keadaan yang memaksa kita untuk tidak bisa sharing, yah itu juga bisa jadi kendala. Tapi, se-introvert apapun orang itu, yang namanya manusia menurutku gak akan tahan memendam masalahnya sendirian. Pastilah ia juga punya tempat untuk berbagi. Meskipun apa yang akan diceritakan hanya sebatas kulit-kulit luarnya aja ^_^ hehehehe. Seberat apapun menurut kita keadaan yang kita hadapi, tetap kita harus mencoba untuk sharing ma seseorang.
Mengenai optimis, seperti quote di atas, untuk meraka yang tahu dan siap. Di sini, tetap harus dibarengi ma usaha dan do'a. Semua perlu proses untuk mendapatkan tujuan akhir. Menurutku lagi, Proses dan tujuan akhir itu sama pentingnya. Karena ada sebagian orang yang beranggapan mereka lebih fokus pada tujuan akhir. Sebagian lagi terlalu menikmati proses yang berlangsung dan mengabaikan atau lalai ma tujuan akhirnya. Semua harus balance, right? ^_^
Aku sendiri saat ini sangat menikmati proses dan tetap fokus pada tujuan akhir. Resiko-resiko yang bakal muncul udah dicermati dan beberapa sudah diperhitungkan solusinya. Meskipun resiko itu terus aja muncul dan menampakkan mukanya selama proses berlangsung, aku gak mau ada kata-kata menyesal. Lagian kenapa harus menyesal? Yang memilih kita, yang menjalani kita dan yang mengambil keputusan juga kita. Otomatis, berani mengambil keputusan berani terima resikokan? Kita gak pernah tahu langkah yang kita ambil salah atau benar jika tidak mengambil keputusan untuk melakukannya. Kita hanya bisa meminimalisir resiko yang bakal muncul dari keputusan yang kita buat.
Memang kadang teori itu lebih simpel daripada praktek. Yah, paling enggak aku berusaha dan tetap berdo'a semoga semuanya dimudahkan Allah SWT. KArena dari awal niatnya baik kok ^_* hehehe.....
So, kesimpulan dari topik yang panjang lebar ini, Kita siap dan jalani dengan segala resikonya. Jika tidak siap, berhenti sejenak dan cermati lalu buat pilihan, maju atau tidak. Make it simple.. And do the best.... ^_*
Cheers.......
Well, jika kita tahu resiko yang bakal muncul dan kita tetap menjalani suatu kondisi/situasi, kita tidak akan dibilang nekad. Jika kita siap menghadapi semua resiko yang (akan) timbul, kita juga gak bakal disebut pengecut. Nah, itu salah satu bentuk kesiapan mental juga kan? Dengan begitu kita akan membuang jauh-jauh yang namanya "Penyesalan" secara kita udah memperhitungkan jauh-jauh hari resiko yang bakal muncul dan kesiapan kita menghadapinya.
Resiko itu gak bisa dicegah. Bagaimanapun usaha dan cara kita, pasti resiko akan muncul. Resiko hanya bisa diminimalisir, agar tidak terjadi resiko yang besar dan merugikan kita. ^_^
So, back to the main topic, we talk about ready or not ready. Aku sendiri berpikiran kalau kita udah tau segala macam resiko dan bagaimana mengelola resiko itu seminim mungkin, bearti kita siap. Kalo masi banyak bingungnya, itu karena kita belum melihat sejauh mana resiko yang bakal muncul.
Menurutku lagi, kalo kita dihadapkan pada dilema, kebingungan dan kebimbangan, paling enggak cari orang yang tepat untuk sharing. Seperti yang selalu orang bilang "dua kepala lebih baik dari satu kepala".
Masalahnya, jika kita termasuk orang yang introvert, atau keadaan yang memaksa kita untuk tidak bisa sharing, yah itu juga bisa jadi kendala. Tapi, se-introvert apapun orang itu, yang namanya manusia menurutku gak akan tahan memendam masalahnya sendirian. Pastilah ia juga punya tempat untuk berbagi. Meskipun apa yang akan diceritakan hanya sebatas kulit-kulit luarnya aja ^_^ hehehehe. Seberat apapun menurut kita keadaan yang kita hadapi, tetap kita harus mencoba untuk sharing ma seseorang.
Mengenai optimis, seperti quote di atas, untuk meraka yang tahu dan siap. Di sini, tetap harus dibarengi ma usaha dan do'a. Semua perlu proses untuk mendapatkan tujuan akhir. Menurutku lagi, Proses dan tujuan akhir itu sama pentingnya. Karena ada sebagian orang yang beranggapan mereka lebih fokus pada tujuan akhir. Sebagian lagi terlalu menikmati proses yang berlangsung dan mengabaikan atau lalai ma tujuan akhirnya. Semua harus balance, right? ^_^
Aku sendiri saat ini sangat menikmati proses dan tetap fokus pada tujuan akhir. Resiko-resiko yang bakal muncul udah dicermati dan beberapa sudah diperhitungkan solusinya. Meskipun resiko itu terus aja muncul dan menampakkan mukanya selama proses berlangsung, aku gak mau ada kata-kata menyesal. Lagian kenapa harus menyesal? Yang memilih kita, yang menjalani kita dan yang mengambil keputusan juga kita. Otomatis, berani mengambil keputusan berani terima resikokan? Kita gak pernah tahu langkah yang kita ambil salah atau benar jika tidak mengambil keputusan untuk melakukannya. Kita hanya bisa meminimalisir resiko yang bakal muncul dari keputusan yang kita buat.
Memang kadang teori itu lebih simpel daripada praktek. Yah, paling enggak aku berusaha dan tetap berdo'a semoga semuanya dimudahkan Allah SWT. KArena dari awal niatnya baik kok ^_* hehehe.....
So, kesimpulan dari topik yang panjang lebar ini, Kita siap dan jalani dengan segala resikonya. Jika tidak siap, berhenti sejenak dan cermati lalu buat pilihan, maju atau tidak. Make it simple.. And do the best.... ^_*
Cheers.......
Subscribe to:
Posts (Atom)